10 Tanda Kiamat

10 tanda kiamat
Banyak hal yang selama berabad-abad menjadi pertanyaan dan perbincangan tentang tanda-tanda, dan berbagai peristiwa yang mendahului datangnya hari kiamat, dikupas dalam buku ini. Misalnya, tentang shirat (jembatan), syafaat, surga, neraka, Imam Mahdi, Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj, turunnya Nabi Isa, 10 tanda yang akan terjadi menjelang kiamat, tanda-tanda kiamat terjadi setelah 200 tahun, dan keluarnya binatang melata.

Berkaitan dengan 10 tanda yang akan terjadi menjelang kiamat, penulis mengutip sejumlah hadis. Antara lain, yang diriwayatkan dari Hudzaifah, bahwa ia bercerita, “Kami sedang duduk-duduk di bawah naungan sebuah tembok di Madinah. Sementara Rasulullah, berada di dalam kamar. Beliau menengok kami dan bertanya, ‘Sedang apa kalian duduk-duduk di situ?’

Kami menjawab, ‘Sedang berbincang-bincang.’ Beliau bertanya, ‘Tentang apa?’ Kami menjawab, ‘Tentang kiamat.’ Beliau bersabda, ‘Kiamat tidak akan tiba sebelum kalian melihat 10 tandanya. Pertama-tama ialah matahari terbit dari barat, kabut, Dajjal, binatang melata, lalu tiga peristiwa gerhana bulan (yakni gerhana yang terjadi di sebelah timur, gerhana yang terjadi di sebelah barat, dan gerhana yang terjadi di semenanjung Arab). Lalu, datangnya Isa, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, dan terakhir ialah munculnya api dari Yaman di sebuah jurang ‘Aden. Siapa pun yang berada di belakangnya, ia akan digiring ke padang mahsyar.”

Buku ini menjawab berbagai pertanyaan pembaca, khususnya kaum Muslimin, tentang segala hal mengenai hari kiamat. Selain itu, juga menjawab dua fenomena gaib lainnya yang harus dilewati oleh seorang manusia setelah jatah usianya di dunia berakhir, yakni kematian dan hari akhirat. Dengan menggunakan dalil-dalil Alquran dan hadis Rasulullah saw, Imam Al-Qurthubi mengupas lengkap dan tuntas ketiga misteri tersebut.

Pembicaraan seluk-beluk kematian, yang oleh penulis diletakkan di bagian awal buku ini sebanyak 67 bab, akan membukakan mata hati kita tentang berbagai hal mengenai peristiwa yang oleh Nabi Muhammad saw dikatakan sebagai “pemutus segala kenikmatan”, “nasihat”, dan “peringatan”. “Cukuplah kematian itu sebagai pelajaran, dan cukuplah kematian itu sebagai sesuatu yang memisahkan,” demikian sabda Rasulullah SAW dalam salah satu hadisnya.

Persiapan menyambut kematian
Penulis mengupas tentang pentingnya ingat mati dan persiapan menyambutnya, seorang Mukmin meninggal dunia dengan kening basah, keluarnya nyawa orang Mukmin dan orang kafir, menalkin mayit dengan kalimat “La Ilaha illallah”, yang dibaca saat memejamkan mata jenazah, dan hukum membaca Alquran di kubur saat pemakaman dan sesudahnya.

Hal lainnya, misalnya, huru-hara sakaratul maut, anjuran mengubur mayit di tengah-tengah kubur orang-orang yang saleh, kubur yang setiap hari berbicara dan ia juga berbicara kepada seorang hamba yang diletakkan di dalamnya, siksa terhadap mayit karena tangisan keluarganya, dan utusan-utusan malaikat maut kepada orang yang hendak meninggal dunia.

Imam Al-Qurthubi juga memaparkan tentang kebenaran siksa kubur, azab orang kafir di dalam kubur, kegembiraan orang mukmin di dalam kuburnya, mayit mendengar apa yang dikatakan kepadanya, ke mana perginya roh setelah keluar dari jasad, dan tobat.

Bagi kaum Muslimin, yang terpenting bukan sekadar memahami berbagai hal tentang kematian, alam akhirat, dan kiamat. Lebih penting lagi adalah mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Kiamat bisa datang tahun depan, dua tahun lagi, 10 tahun lagi, 100 tahun lagi, atau bahkan 1.000 tahun lagi.

Namun, kematian bisa datang hari ini, besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, 10 tahun lagi, 20 tahun lagi, 30-40-50 tahun lagi. Kematian begitu dekat! Hal terindah adalah kapan pun kematian itu datang menjemput, kita telah siap dengan amal-amal saleh untuk memasuki alam akhirat ataupun melewati datangnya hari kiamat.

Seperti ditegaskan oleh Rasulullah SAW, Mukmin yang cerdas adalah yang selalu ingat mati dan mempersiapkan diri untuk mati. Tentunya hal itu juga berarti mempersiapkan diri menunggu datangnya hari kiamat dan hari pembalasan (akhirat). Bagi seorang yang beriman dan beramal saleh, tak ada yang perlu ditakutkan dari sebuah kematian. Sebab, sebagaimana dikatakan oleh Hayyan al-Aswad, “Kematian adalah sebuah jembatan yang menghubungkan pertemuan dua kekasih.”

Di sinilah, terutama letak arti penting membaca buku karya Imam Al-Qurthubi ini. Seperti bait-bait syair yang sering dibaca oleh Amirul Mukminin Umar bin Khaththab dan dikutip oleh Imam Al-Qurthubi dalam buku ini:

Tidak ada sesuatu pun yang kamu lihat gemerlapan itu abadi,karena yang abadi hanyalah Tuhan, harta dan anak-anakmu akan lenyap.Hurmuz pada suatu hari pernah tidak membutuhkan simpanan kekayaannya Kaum ‘Aad sudah pernah ingin abadi, tapi gagal.Begitu pula, dengan Sulaiman sang pengendali angin, manusia, dan jin.Mana raja yang dulu pernah paling berjaya di muka bumi?
Di akhirat kelak semua akan tunduk dan tak mampu berbohong. irwan kelana ed : sya ( dari Harian Republika)

~ oleh BIMA CETTA WIDYATAMAKA pada Desember 6, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: