Mengungkap si Silent Killer (2)

Gambar: topnews.net.nz

PENYAKIT jantung masih menjadi yang terdepan pembunuh nomor wahid di dunia. Datang tiba-tiba dan mematikan, sehingga membuat penyakit ini sulit dideteksi.

Bukan hanya orangtua di atas 40 tahun yang diserang, jantung juga mulai membidik usia-usia muda produktif.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi tahun 2020, negara-negara berkembang seperti Indonesia, bakal mengalami peningkatan jumlah penderita jantung hingga 137 persen sementara negara maju hanya 48 persen.

Tentu ini angka yang mencengangkan, apalagi tertinggi justru di negara miskin dan berkembang. WHO juga mencatat jumlah kematian yang disebabkan oleh jantung sebanyak 17,2 juta per tahunnya.

“Yang mengkhawatirkan angka itu banyak dialami anak-anak muda yang hidup di perkotaan,” kata Ketua Yayasan Jantung Indonesia, Dr. Dewi Andang Joesoef, ditemui okezone di kantornya.

Sebaliknya, mereka yang hidup di desa berumur panjang. Penyakit yang di derita juga tidak aneh-aneh. Jarang ditemukan penyakit jantung atau stroke, paling-paling penyakit kurap, kudis atau panu. “Selain juga masyarakat desa tingkat stresnya rendah,” jelasnya.

Sementara, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tertinggi ada di Provinsi Aceh 12,6 persen, Sumatera Barat 11,3 persen, Gorontalo 11,0 persen, Sulawesi Tengah 9,4 persen dan Nusa Tenggara Timur 6,8 persen.

Data tersebut menyebutkan, Provinsi Jawa Barat paling rendah menderita penyakit jantung. Mengapa demikian, sederhana saja, masyarakat suku sunda itu, kegemarannya mengonsumsi lalapan sayuran dan buah-buahan.

Pesatnya perkembangan penyakit jantung di dunia ini, kata Dr. Dewi Andang disebabkan banyak faktor, mulai dari gaya hidup (life style), pola makan dan juga lingkungan tempat tinggal.

Pertama, kegiatan fisik, kesibukan artis Ade Namnung sempit waktunya untuk berolahraga. Aktivitas fisik dikategorikan “cukup” apabila kegiatan itu diimbangi olahraga cukup.

Kedua, perokok, orang yang perokok berat justru cenderung mudah sekali terkena penyakit jantung. Ada rumusnya, simple saja yakni, SEHAT (Seimbangkan gizi, Enyahkan rokok, Hadapi dan atasi
stress, Awasi tekanan darah, Teratur berolah raga).

Ketiga, tingkat stres, banyaknya pekerjaan yang membebani oleh seseorang bisa membuat stres, bisa jadi faktor utama. Untuk menghindarinya bentengi diri dengan keimanan yang kuat.

Keempat, pola makan, orang yang “sering” makan-minuman manis, asin, berlemak, jeroan, makanan dibakar, panggang, makanan yang diawetkan, minuman berkafein dan bumbu penyedap dianggap sebagai berperilaku konsumsi makanan berisiko.

Obat Mujarab

Sebenarnya hal paling sederhana untuk meminimalisir jumlah korban meninggal akibat jantung, menurut Dr. Dewi Andang adalah dengan berolahraga rutin.

Sekurangnya sepuluh menit dalam satu kegiatan tanpa henti dan secara komulatif 150 menit, jalan sepanjang 3 kilometer setiap harinya.

Yayasan Jantung Indonesia bertekad ikut berperan aktif mengajak masyarakat dalam hal preventif, promotif, kuantitatif dan rehabilitatif.

Tentunya, juga dilakukan pemeriksaan kesehatan, melakukan kegiatan olah raga jantung sehat melalui Klub Jantung Sehat, melakukan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat luas baik dari berbagai media komunikasi, cetak dan elektronika, dan tak kalah penting adalah memberikan bantuan biaya operasi bagi pasien yang tidak mampu, seta mengadakan latihan rehabilitatif untuk ex-penderita.

Artis Tika Panggabean, mulai menyadari pentingnya menjaga kesehatan. Vokalis Projek Pop ini banyak belajar dari yang dialami Ade Namnung (meninggal akibat jantung). Belum lagi, sang ayah juga menderita diabetes dan sudah pernah bypass karena jantung.

“Aku memutuskan untuk mengubah pola hidup sehat, mulai dari mengubah pola makan, selama ini kan aku kalo makan asal aja, semua dimakan,” kata Tika kepada okezone.

Keluarga

Selain itu, kata  Ahli penyakit jantung, Prof Dr. Budhi Setyanto SpJP dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) besarnya kasus
penyakit jantung juda disebabkan rendahnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang penyakit jantung dan pembuluh darah.

“Serangan jantung bisa dipicu oleh kegemukan, kadar kolesterol tinggi, diabetes tinggi dan berat badan tidak ideal.Hal ini terjadi akibat dari kurang diperhatikannya pola hidup sehat,” kata Budhi dikutip dari Koran SINDO.

Budi menyarankan siapapun untuk meninggalkan rokok, pola makan tidak sehat,terlalu banyak asupan lemak, kurang makan berserat tinggi yaitu sayuran dan buah-buahan serta rendahnya kegiatan fisik. Dan yang paling penting, kebiasaan sehat tersebut musti rutin dilakoni di dalam rumah oleh seluruh anggota kelurga.

Melalui keluarga, anggotanya bisa melarang untuk merokok di rumah, menyiapkan bahan makanan yang sehat di rumah seperti buah-buahan dan sayuran dan lebih aktif bergerak.

”Kebiasaan gaya hidup sehat harus dilakukan dari lingkup terkecil yakni rumah dengan memastikan asupan makanan yang sehat bagi diri sendiri dan keluarga,” imbuh Budi.

Meski pada umumnya, lanjut Budi, penyakit jantung itu ada dua bagian. Faktor penyebab yang dapat diubah dan faktor penyebab yang tidak diubah.

Faktor penyebab yang tidak dapat diubah adalah faktor keturunan dan jenis kelamin dan faktor yang dapat diubah berkaitan dengan gaya hidup. Kegemukan, hipertensi (darah tinggi), diabetes melitus (kencing manis), kebiasaan merokok, dan kadar lemak darah yang tinggi bisa memicu terjadinya penyakit jantung koroner.

Dina Kusumaningrum

http://suar.okezone.com/read/2012/02/08/283/571971/283/mengungkap-si-silent-killer-2

~ oleh BIMA CETTA WIDYATAMAKA pada Februari 14, 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: