Bulan Puasa Menjadi lebih Konsumtif?

Sulit dimungkiri sebagian besar dari kita seringkali masih memaknai kehadiran puasa Ramadan sebagai momen untuk menunjukkan peningkatan perilaku konsumtif secara drastis dibandingkan bulan-bulan lain. Pola pikir itu kemudian mendorong kita bersikap permisif terhadap perilaku konsumtif.

Secara sederhana perilaku konsumtif dapat diartikan dengan membeli atau menggunakan barang tanpa pertimbangan rasional atau bukan atas dasar kebutuhan. Sebagai contoh, ketika waktu berbuka puasa tiba kita cenderung menghidangkan sajian makanan dan minuman secara berlebihan atas dalih karena telah menahan rasa lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Hal ini seakan menjadi sebuah fenomena biasa yang terjadi setiap tahun pada saat bulan Ramadan tiba.

Ditinjau dari berbagai aspek, tindakan tersebut seharusnya tidak perlu terjadi karena dampaknya yang buruk baik secara individu maupun sosial (lingkungan), baik secara langsung maupun tidak langsung. Jika berlangsung secara terus-menerus dalam jangka panjang, perilaku konsumtif akan melahirkan kesenjangan dan kecemburuan sosial. Tercipta jurang pemisah antara masyarakat mampu yang memiliki tingkat konsumsi tinggi dan masyarakat kurang mampu yang memiliki tingkat konsumsi rendah.

Dalam pandangan agama Islam, pemenuhan konsumsi hendaknya didasarkan pada motif untuk memenuhi kebutuhan yang diarahkan pada sebuah kemanfaatan (maslahah). Agama Islam mengajarkan kepada kita, kaum Muslim bahwa tujuan utama melakukan konsumsi adalah untuk memenuhi kebutuhan jasmani maupun rohani sehingga mampu memaksimalkan fungsi kemanusiaan kita sebagai hamba Allah SWT agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Dengan demikian, tujuan utama melakukan konsumsi bukan untuk memaksimalkan kepuasan diri. Hal ini berbanding terbalik dengan perilaku konsumsi yang didasarkan pada nafsu. Jika nafsu menjadi motif utama untuk melakukan konsumsi, maka akan timbul di dalam diri kita untuk memperoleh hal itu sebanyak-banyaknya dengan tergesa-gesa, bahkan menghalalkan segala cara,  sehingga tak mendatangkan manfaat dan mudah pula menguap.

Sungguh menjadi sebuah ironi bila perilaku konsumtif justru marak terjadi di bulan Ramadan. Dengan menjalankan ibadah puasa Ramadan seharusnya kita dapat lebih menahan diri untuk tidak bersikap konsumtif dan menahan berbagai kemauan berlebih di dalam diri kita. Selama menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh kita dilatih untuk menahan hawa nafsu untuk tidak makan dan minum serta melakukan hal-hal lain yang dapat membatalkan atau mengurangi nilai ibadah puasa.

Dengan demikian, puasa membimbing kita untuk berperilaku sederhana sesuai dengan standar kebutuhan minimum, dan tidak melampaui batas. Sebagaimana firman Allah: “Hai orang- orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa- apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang- orang yang melampaui batas.”  (QS Al-Maidah: 87)

Memenuhi kebutuhan konsumsi merupakan kemestian dalam kehidupan. Karena itu, Islam menganjurkan untuk memenuhi konsumsi untuk keperluan ibadah kita kepada Allah, dengan catatan tidak melampaui batas. Nah, di bulan Ramadhan inilah kita dilatih dan diuji, apakah kita bisa memenuhi kebutuhan konsumsi kita sesuai kebutuhan atau melampaui batas. Jika kita dapat memaknai kehadiran bulan suci Ramadhan secara lebih arif dan bijaksana sebagai bulan ibadah, maka perilaku konsumtif seperti itu tidak perlu terjadi. Dorongan untuk berperilaku konsumtif tersebut dapat kita alihkan kepada perbuatan-perbuatan yang dapat membawa manfaat nyata bagi masayarkat luas, seperti memberikan ifthor (hidangan berbuka puasa), sedekah, dan kegiatan berbagi lainnya sebagai bentuk kepedulian kita pada sesama yang papa.

Sejatinya, bulan Ramadan harus kita jadikan sebagai wahana untuk mengasah kepekaan sosial kita. Ketiadaan rasa empati terhadap sesama yang kekurangan akan menjadikan kita sebagai manusia yang suka berlebih-lebihan dalam melakukan konsumsi. Melalui ibadah puasa Ramadhan ini kita diingatkan kembali oleh Allah SWT bahwa kita merupakan makhluk sosial yang memiliki tanggung jawab untuk membangun dan menebar kepedulian pada sesama karena secara fitrah manusia semua sama.***

Hatta Rajasa
Menko Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu II
Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN)

~ oleh BIMA CETTA WIDYATAMAKA pada Juli 23, 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: